1. Kerja Keras
Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja
keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun,
sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/ tahun), Inggris
(1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680
jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasolkan sebuah mobil
dalm 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk
membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh
dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6
orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan "agak memalukan"
di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk "yang tidak
dibutuhkan" oleh perusahaan.
2. Pantang menyerah
Sejarah membuktikan bahwa orang Jepang termasuk bangsa yang
tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran
Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat
tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi meiji (Meishi Ishin)
datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner.
Kemsikinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah, Tidak
hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batu bara, biji besi, dan kayu,
bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk
Indonesia. Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi,
maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita. Rentetan bencana terjadi di
tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hirosima dan Nagasaki, disusul
dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi
besar di Tokyo. Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun
berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan
juga kereta cepat (shinkansen). Mungkin cukup menakjubkan bagaimana
Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari
peralatan elektronik ditahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol
untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era
kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan ketika menawarkan
produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi
akhirnya meleganda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa
ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai
diformulasikan di Jepag dengan nama Shippaigaku (Ilmu Kegagalan).
3. Malu
Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang.
Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual
sejak era samurai, yaitu karena mereka kalaah pertempuran. Masuk ke
dunia modern, wacana nya sedikit berubah ke fenomena "mengundurkan diri'
bagi pejabat (menteri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi
atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin
anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau
tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih
jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan
memotong jalur ditengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya
apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi
kesepakatan umum.
4. Hidup Hemat
Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian.
Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang
kehidupan. Banyak orang Jepang yang ramai belanja di supermarket pada
jam 19:30 karena ternyata sudah menjadi hal biasa bahwa supermarket di
Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah
jam sebelum tutup. Rata-rata supermarket di Jepang tutup pada pukul
20:00.
5. Inovasi
Jepang bukan bangsa penemu, tapi Jepang mempunyai
kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam
bentuk yang masih diminati masyarakat. menarik membaca kisah Akio Morita
yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak
ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip
Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model
portable sebagai sebuah produk booming selama puluhan tahun adalah Akio
Morita, founder dan CEO Sony masa itu. Sampai tahu 1995, tercatat lebih
dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta
produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan
orang jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang
dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang
lebih cepat dan murah.
6. Loyalitas
Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan
tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan
Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan.
Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini
mungkin implikasi dari industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau
menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri
sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.
7. Budaya Baca
Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke
densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak
maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau
berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak
penerbit yang mulai membuat mang-ga (komik bergambar) untuk
materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP, maupun SMA. Pelajaran
Sejarah, Biologi, Bahasa dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat
baca masyarakat semakin tingga. Budaya baca orang jepang juga didukung
oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa
inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan
buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya
institute penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern.
Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa
minggu sejak buku asingnya diterbitkan.
8. Kerja Kelompok
Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang
terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan,
biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak
hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga
seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuj
kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar
orang Jepang. Ada anekdot bahwa " 1 orang professor Jepang akan kalah
dengan 1 orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak
akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok".
Musyawarah mufakat yang sering disebut dengan "rin-gi" adalah ritual
dalam kelompok.
9. Mandiri
Sejak usia dini anak-anak di Jepang dilatih untuk mandiri.
Setiap anak yang masuk TK (Yochien) dilatih harus membawa perlengkapan
sendiri dan bertanggung jawab atas barang miliknya. Selepas SMA dan
bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang
tua. Mereka akan mencari kerja part time untuk biaya sekolah dan
kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka "meminjam" uang
ke oran tua dan nanti akan dikembalikan di bulan berikutnya.
10. Jaga Tradisi dan Menghormati Orang Tua
Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang
kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya permpuan yang sudah menikah
untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini. Budaya minta
maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik
sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki, maka jangan kaget kalau yang
ditabrak malah minta maaf duluan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar